Suara
alarm di handphonenya tak mampu kalahkan udara dingin pagi ini. Seharusnya
remaja yang baru duduk di bangku 2 SMA ini sudah harus bangun 10 menit yang
lalu, tapi gadis bernama lengkap Aeldra Dwi Alana itu masih melingkar di
pembaringan. Hampir setiap pagi Ibu kost turun tangan membangunkannya.
"El...
Sudah jam 06.30, lo udah bangun?" Tanya Bu Nani. Tak ada jawaban. Wanita
berkepala 4 itu kembali mengetuk pintu, kali ini agak keras.
"Ayo
bangun El, nanti kamu telat lagi ke sekolah."
"Iyaa..."
Beberapa menit kemudian gadis itu keluar sambil merapikan ikat pinggangnya.
"Lo
gak mandi?" selidik Bu Kost sambil mengendus.
El
nyengir, "Apa gunanya parfum kalau El harus mandi setiap pagi."
Bu
Nani hanya menggeleng dan membiarkan gadis itu berlalu.
"El..."
seorang gadis bertubuh mungil dengan pita pink di rambutnya berdiri di pintu
kelas. Keysha memang selalu datang lebih awal.
Keysha
dan El adalah teman baik sejak duduk di bangku kelas 1. El adalah pendengar
yang baik untuk Keysha, mungkin ini yang membuat gadis manja itu merasa nyaman
berteman dengan El. Banyak yang bilang Keysha itu menyebalkan tapi tidak bagi
El, begitu juga anggapan tentang El yang cuek dan dingin tak membuat Keysha
kemudian memilih teman yang lain. Ya, meskipun harus diakui Keysha adalah
pemilih.
"Berangkat
tadi gue dibonceng Kak Jovan," bisik Keysha.
"Kapan
lo mau traktir gue?"
"Gue
belum jadian. Kebetulan aja tadi motor Mas Indra mogok, jadilah aku dibonceng
sama Kak Jovan," terang Keysha.
Memang
sejak keduanya berteman hanya Jovan yang melulu Keysha ceritakan. Sepertinya
dia sudah jatuh hati dengan cowok maskulin itu. Sementara El tak pernah cerita
tentang cowok, hanya 2-3 kali cerita itu pun tentang cintanya yang selalu
berakhir tragis. Dia lebih sering mengeluh tentang PR Kimia atau Fisikanya yang
tak pernah beres ia kerjakan di kost.
"El,
besok sepulang sekolah kumpul di ruang OSIS rapat persiapan ulang tahun
sekolah," kata Bobby anak kelas sebelah.
"Oke.
Thanks ya infonya." Bobby hanya menunjukkan ibu jarinya dan berlalu.
Sepulang
sekolah tidak seperti biasanya, Keysha langsung keluar tanpa menunggu El yang
masih sibuk dengan tas dan buku-bukunya. Konon katanya mau nyalon. Dan Jovan
adalah alasannya terburu-buru.
"Efek
jatuh hati," batin El sambil geleng-geleng kepala.
Keysha
selalu peduli dengan penampilan, rambut merupakan salah satu yang selalu
menjadi perhatian. Setiap minggu selalu ada jadwal ke salon, yang creambath,
manicure pedicure, massage atau sekedar memotong ujung rambutnya yang mulai
bercabang. Mengikuti perkembangan trend terbaru untuk penataan rambut adalah
sebuah keharusan baginya.
Pukul
14.30 Keysha sudah tiba di salon Bu Nani. Salon yang selalu ramai itu memang
milik Bu Nani, beliau datang hanya untuk memantau anak buahnya. Tapi itu tidak
berlaku ketika Keysha datang, Bu Nani lah yang harus turun tangan melayani
pelanggan setianya itu.
"Hai
Ke..." sapa Bu Nani ramah.
"Key,
pake 'y' Bu," Keysha membenarkan pengucapan namanya yang sebenarnya tidak
penting itu. Tapi ia selalu melakukan hal itu ketika apa yang ia dengar tak
seperti yang ia inginkan. Bu Nani hanya tersenyum.
"Siapa
Key, pacar Keysha ya?" tanya Bu Nani melihat lelaki di samping Keysha yang
dari tadi tak mengucapkan sepatah katapun.
Keysha
hanya tersenyum tanpa menjawab. "Model rambut yang bakal trend tahun depan
gimana Bu?" tanya Keysha sambil duduk dan mengambil salah satu majalah di
hadapannya.
"Tahun
depan akan serba volume tanpa sasak," jawabnya singkat sambil terus
bekerja.
Keesokan
Harinya
Persis
seperti apa yang El duga, hari ini Keysha sudah pasti menceritakan hari
pertamanya hang out bareng Jovan. Ke salon, shoping, nonton, makan dan bla bla
bla. Jelas sekali terlihat kebahagiaan itu di matanya. Betapa tidak, dalam
waktu kurang dari 2 minggu dia sudah berhasil mengajaknya keluar.
Keysha
memang selalu menarik perhatian, wajahnya cantik, bersih, smart, supel. Cowok
mana yang bisa mEnolaknya. Cewek-cewek banyak yang kurang menyukainya bisa jadi
karena mereka iri melihat kelebihan-kelebihan itu. Entahlah...
"Woi!!!"
seseorang menepuk bahu El.
"Key..."
ucap El setelah melihat wajah gadis ayu itu.
"Ngelamun
mulu. Temenin gue yuk, lo gak ada kegiatan apa-apa kan?"
"Gue
ada rapat OSIS 10 menit lagi," dilihatnya jam di pergelangan tangannya.
"Yaaah.
Mas Indra ngajak gue maen, ada temen-temennya juga. Masa gue cewek
ndiri?!" Keysha terlihat kecewa. El tak menyahut. "Ya udah. Tapi lain
kali harus mau ya."
"Iya.
Apa sih yang gak buat lo... Gue duluan ya, udah pada kumpul tuh." El
beranjak dari duduknya, sementara Keysha pergi bersama Mas Indra.
Di
dalam ruang OSIS hanya ketua dan sekretaris OSIS yang belum terlihat. Rapat
hari ini diikuti oleh 10 MPK dan 39 pengurus OSIS tanpa Pembina. Begitu yang
ditunggu memasuki ruangan, rapat segera dibuka dengan do'a dipimpin oleh Ketua
OSIS.
"Ulang
tahun sekolah akan diadakan satu minggu setelah ujian semester, itu artinya
kita masih punya waktu sekitar satu bulan untuk persiapan. Besar harapan saya
persiapan beres sebelum ujian semester, jadi ketika ujian semester kita sudah
tidak lagi terbebani dengan hal-hal menyangkut acara nanti. Temen-temen
pengurus OSIS dan MPK silakan yang mempunyai usul..."
Satu
per satu mengeluarkan pendapatnya, sementara El hanya diam sambil memainkan
pulpen di tangannya, sesekali melihat jam di tangannya.
45
menit berikutnya Ketua OSIS sudah membacakan hasil rapat dilanjutkan dengan
bacaan hamdalah, tanda rapat selesai. El menghela napas sambil bangkit dari
duduknya.
Kriiing
kriiing kriing... HP El berbunyi. "Keysha," gumamnya setelah membaca
nama yang muncul di layar handphonenya.
"Kenapa
Key?"
"BT.
Gue pikir ada Kak Jovan juga, ternyata gak ada," jawab Keysha dari
seberang.
"Besok
juga ketemu di sekolah, berdo'a aja ban Mas Indra kempes lagi biar bisa
boncengan sama Kak Jovan," canda El.
"Ada-ada
aja lo. Udah kelar rapatnya?"
"Baru
kelar, ini gue lagi jalan pulang."
"Ya
udah, istirahat sampai kost jangan ngelayap cari kesibukan," Keysha
memberi perhatian. Keysha hanya mengiyakan dan memasukkan handphonenya ke saku
setelah Keysha menutup pembicaraan.
Setiba
di kost El langsung ganti pakaian dan bergegas keluar cari makan, sedari tadi
perutnya sudah keroncongan. Tepat di sebelah kost ada tongkrongan anak-anak
gaul yang super komplit. Ada warung makannya, ada studio musiknya, dan ada
distronya juga. Yang satu ini bukan milik Bu Nani ya.
"El."
El
langsung mencari sumber suara. Jleb. Cowok berbadan tinggi dengan seragam SMA
itu tersenyum manis.
"Kak
Jovan?" El sedikit gugup. "Ngapain disini? Masih pakai seragam
lagi."
"Latihan
sama anak-anak buat acara ulang tahun sekolah, pulang sekolah langsung cabut
kesini. Lo sendiri ngapain?"
"Cari
makan," jawab El meringis.
"Rumah
lo deket sini?" tanya Jovan sedikit mengintrogasi.
"Aku
kost persis di sebelah."
Jovan
mengangguk kemudian memanggil pelayan dan memesan makan. 'Lah, kok jadi kaya
janjian mau makan bareng gini? Satu meja lagi, kalau Keysha tahu bisa ngamuk,'
batin El sambil menyantap makanan di depannya.
Diam-diam
Jovan memperhatikan, "Kenapa El? Keberatan gue duduk disini?"
"Oooh
gak, gak papa. Ini kan tempat umum, bebas, asal jangan di tempat parkir aja
makannya." Jovan tertawa. Begitulah trik El untuk menyembunyikan
kegugupannya.
Beberapa
menit kemudian Jovan beranjak mengajak El gabung sama temen-temen band nya yang
sudah menunggu di studio. Berhubung makan dan minum El Jovan yang bayar, El pun
tak sampai hati mEnolak ajakan Jovan. Kalau boleh jujur sih El lebih memilih
tidur di kost daripada duduk manis dengerin musik yang super berisik itu,
menurut El siiih.
Dan
entah kenapa semenjak pertemuan itu didukung dengan intensitas latihan band
nya, El dan Jovan sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama di tempat gaul
itu. Sekedar ngobrol saja sih, sharing soal hobby masing-masing, dll.
Menjelang
hari H -ulang tahun sekolah- El dan anak-anak OSIS benar-benar sibuk dibuatnya.
Keysha yang terbiasa menghabiskan hampir setengah hari bersama El merasa sepi.
Waktu El yang biasanya hanya untuk mendengar ceritanya harus terbagi.
"El,
hari ini gue nginep kost lo ya. Motor Mas Indra masih di bengkel, gue juga gak
bisa lagi bonceng Kak Jovan soalnya Mas Indra udah booking duluan," Keysha
sedikit memohon. El hanya mengangguk sambil memberikan kunci kost nya.
"Lo
pulang duluan aja, gue masih banyak urusan. Acaranya kan besok, banyak yang
belum beres."
Keysha
mengangguk dan meninggalkan gadis berpenampilan ala kadarnya itu. El memang
cuek tapi tidak ketika ia diberi kepercayaan atau tugas, sampai hal terkecil
pun ia lakukan dengan sangat teliti dengan tangannya sendiri.
Sekitar
jam 16.30 WIB El sudah tiba di kostnya. Di dapatinya sahabatnya yang mungil itu
sedang duduk membaca buku.
"Key...
Baca apaan lo?"
"Eh
El. Baca buku Raditya Dika nih, penulis favorit lo. Tadinya mau baca diary lo
tapi gak ketemu gue cari," jawab Keysha tersenyum.
El
tertawa, "Gue mana punya diary. Kalaupun punya, bingung apaan yang mau gue
tulis." El melempar tasnya dan merebahkan badannya di atas pembaringan.
"Emang lo gak pernah kagum
sama cowok?" tanya Keysha. "Minimal lo suka gitu, atau deket
barangkali sama cowok?" Kali ini Keysha sedikit mengintrogasi.
El diam, matanya menerawang
seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Kan dulu gue pernah cerita, gue
udah lupain. Eh, lo gimana sama Kak Jovan?" Keysha balik tanya.
Kali ini Keysha yang diam,
padahal biasanya tanpa ditanya dia nya udah nyerocos cerita. Di tatapnya mata
Keysha dalam-dalam.
"Gue harus puas dengan
menjadi pengagumnya."
El tidak mengerti,
"Kenapa?"
"Bertepuk sebelah tangan.
Kayaknya dia suka sama orang lain."
"Lo tau darimana?"
"Belum pasti sih, cuma gue
gak mau terlalu berharap." Raut wajah Keysha berubah, "Lagian selama
gue deket, dia gak pernah nunjukin kalau dia tertarik sama gue dan bodohnya gue
baru sadar."
El tidak menyahut, dipeluknya
sahabat yang sedang berduka itu. Sampai malam tiba, Keysha lebih banyak diam
dan terus membaca novel Manusia Setengah Salmon yang filmnya beberapa hari lalu
dia tonton bersama Jovan dan Mas Indra.
Sekitar jam 06.00 Keysha dan El
sudah siap berangkat ke sekolah. Biasanya jam segini El masih tidur dan baru
bangun 30 menit kemudian. Sementara Keysha biasanya sedang di pinggir jalan
menunggu sang arjuna lewat dan menawari tumpangan. Tidak hanya Keysha dan El,
siswa-siswi yang lain pun menyambut acara HUT sekolah ini dengan semangat.
Apalagi begitu acara formal
selesai, semua menjadi satu di depan sebuah panggung yang sengaja disediakan
oleh OSIS. Ada beberapa pentas seni dari siswa-siswi dan yang paling ditunggu
adalah penampilan Friday, band kenamaan sekolah. Jovan adalah salah satu
personilnya.
"Key... El..."
seseorang memanggil dua sahabat yang sedang duduk menikmati lantunan lagu dari
band kelasnya.
"Kak Jovan? Bukannya
sebentar lagi tampil?" Keysha salah tingkah.
Cowok bernama lengkap Andromeda
Jovanka itu tersenyum.
"Oh ya El, gimana suka gak
bukunya?" tanya Jovan pada El yang sedari tadi pura-pura gak ngeh sama
kedatangan Jovan.
"Apa?!" Suara musik di
aula membuat El tidak begitu jelas mendengar pertanyaan Jovan.
"Suka gak bukunya?"
Jovan mengulang. Raut wajah Keysha yang gelisah tidak bisa lagi disembunyikan.
"Mmmm... El udah baca kok
Kak kemarin, malah langsung habis semalem," buru-buru Keysha menjawab. El
hanya bengong.
"Bagus deh. Kalau gitu gue
duluan ya, mau siap-siap," pamit Jovan.
Begitu Jovan berlalu El langsung
menatap Keysha penuh tanya. Aneh, El merasa ada yang disembunyikan Keysha.
Keysha menarik lengan El,
mengajaknya keluar dari aula yang bising itu. "Sorry El."
"Gue gak ngerti." El
bingung.
"Buku yang gue baca kemarin
punya lo... Dari Kak Jovan. Dia datang ke kost lo beberapa menit setelah gue
sampai."
"Becanda lo..." El
tidak percaya.
"Sebenarnya minggu lalu juga
dia ajak lo nonton bareng gue sama Mas Indra, cuma gue gak suka gue bilang lo
gak bisa. Lo sibuk. Makanya dia beliin buku itu buat lo." Keysha sama
sekali tak berani menatap El. "Maafin gue El..." akhirnya sambil
berlalu.
El bingung, cerita cintanya
dengan 2 cowok sebelumnya begitu dramatis dan berakhir dengan sakit hati karena
dikhianati. Dan kini, dia merasa sedang memainkan peran dalam sebuah sinetron
remaja. Haduuuh kenapa jadi sinetron banget ceritanya.
Badan El serentak bergetar ketika
musik di dalam ruangan yang biasa digunakan untuk rapat wali murid itu berhenti
dan seseorang melalui pengeras suara memanggil namanya.
"Aeldra Dwi Alana... El...
Gue mohon naik ke atas stage."
Suara itu, ada apalagi ini?!
Perasaan El berkecamuk, dia masih diam di tempat hingga seseorang datang
menghampirinya.
"Keysha?!"
"Lo gak denger nama lo
dipanggil naik ke stage?!" Keysha kali ini tersenyum dan menggandeng karibnya
yang sedang galau itu. "Seseorang menunggumu di atas sana."
Tepuk tangan riuh seluruh siswa
pecah melihat gadis bernama Aeldra Dwi Alana itu naik ke atas panggung. Jovan
menyambutnya.
"Gue mau bawain lagu seorang
penyanyi Australia yang sosoknya begitu dikenal di era 1990-an. Dan gue denger
cewek di sebelah gue ini suka banget dengan lagu-lagunya. Rick Price-If You are
My Baby," Jovan mulai memetik senar gitar disambut tepuk tangan anak-anak.
Dulu Keysha pernah cerita, pengen
banget ada cowok nyanyiin lagu untuknya dan menyatakan cinta di depan orang
banyak, sebagai bukti cintanya. Keysha banget ini, bukan El. Bahkan ia tak
pernah sekalipun bermimpi begini.
"El... Lama gue nunggu saat
ini tiba, dan gue rasa ini adalah waktu yang tepat. Will you be my baby?"
tanya Jovan usai menyanyikan lagu. Tatapannya begitu dalam.
Anak-anak kembali bersorak
menyoraki El agar menerima Jovan sebagai kekasihnya.
Dari atas stage El melihat senyum
Keysha yang entah pura-pura atau tidak seolah sudah berlapang dada. El merasa
aneh, serasa sedang di acara reality show dimana orang akan memberikan kejutan
untuk orang yang ia sayangi kemudian menyatakan perasaannya. Ihhh norak, pikir
El.
El menghela napas panjang. El
kembali mEnoleh ke arah Keysha, cewek di sebelah stage itu mengangguk.
"Sebelumnya makasih buat Kak
Jovan yang rela semua orang tau tentang perasaannya. Mungkin status pelajar
bukan alasan yang tepat untuk mEnolak. Trauma dikhianati juga bukan alasan
logis karena gue yakin Kak Jovan bakal jaga gue. Tapi jujur ada hati lain yang
harus gue jaga, jadi maaf, El gak bisa," jelasnya sambil berlalu.
Mereka yang menyaksikan seolah
kecewa. Kenapa? Jovan adalah salah satu cowok yang menjadi idola banyak cewek
di sekolah. Tampan, pinter, jago basket, jago musik. Kurang apalagi? Bodohnya
El... Banyak wanita berlomba menarik perhatiannya, sementara El yang tak pernah
melakukan apa-apa dengan mudah membuat cowok itu jatuh hati.
"Kenapa El? karena
gue?" tanya Keysha. "Gue seneng liat lo bahagia."
"Lo sahabat gue, gue kenal
lo banget, bahkan gue rasain apa yang gak lo katakan. Timbangan gue berat ke lo
Key."
Mata Keysha berkaca, "Tapi
El..."
"Ssstt... Mungkin sekarang
bukan waktu yang tepat, toh kalau memang jodoh Tuhan pasti menunjukkan jalan
lain," El tersenyum.
Keysha pun memeluk El erat.
Cerpen Karangan: S Priani Maftuha

Belum ada tanggapan untuk "CERPEN BERAT SAHABAT "
Posting Komentar