By
: Yoest
Disudut
kamar tidur itu
Engkau
tegak menatapku
Dalam
diam, dalam bisu, tak perduli apa disekitarmu
Keangkuhanmu
tak luntur oleh sang waktu
Cermin
tua sahabatku,
Tanpa
kata kau puji diriku
Cantik,
sexsi, bersih, ayu
Ahhh...sahabatku..,
aku jadi tersipu malu.
Cermin
tua kau juga musuhku !
Tanpa
perasaan kau hina diriku.
Norak,
hitam, gemuk, pendek dan layu
Dasar
musuh.., kau robohkan dinding percaya diriku.
Hari
berlalu dan minggu berganti
Bulan
berlari, tahunpun merambat pergi.
Namun
cermin tua.., kau tetap setia menemani.
Dengan
segala puja dan puji, caci dan juga maki.
Dan
menjelang ramadhan kali ini
Aku
tegak dihadapanmu, berkaca diri
Bantu
aku menilai kejujuran hati
Tentang
hari lalu dan budi pekerti.
Cermin
tua sahabatku, engkau musuh terbaikku
Kupinjam
tajam matamu, menatap lekat sanubariku
Ahhh
ternyata..., nafsu menggumpal, membiru menyesak kalbu
Amarah
membara didasar jiwa yang merana.
Cermin
tua sahabatku, engkau musuh terbaikku
Kejujuranmu
membuatku rindu menyambut ramadhan indah itu
Karena
dalam rangkumnya...
Kuingin
panjatkan do'a - do'a dan leburkan dosa-dosa.
Biografi
singkat Yoest
Namaku singkat saja, Yustina. Namun karena aku
orang jawa maka aku suka
menuliskannya dengan ejaan jawa, Yoest sebagai
nama pena. Terinspirasi
oleh nama Soeharto,dan berharap aku bisa menjadi
orang besar seperti dia.
Aku bungsu dari tiga bersaudara, lahir di Jakarta
31 Maret 1976. Jarak usia
yang begitu jauh ( 9 th ) dengan kakak ku yang
kedua, membuat aku
"sendiri" dalam melalui hari. Karena kedua
kakakku sudah berkeluarga ketika
aku baru menginjak remaja.
Sejak kecil aku hobby membaca. Toko buku dan
perpustakaan adalah tempat
favoritku sejak kanak2 sampai kini aku mempunyai 2
orang anak. Tak jarang
aku berkurung 2/3 jam di Kharisma atau Gunung Agung
hanya untuk
membeli satu buah buku berharga lima atau sepuluh
ribu rupiah saja.
Sedang buku2 yang berharga empat puluh, lima puluh
ribu aku baca didalam
toko tanpa ada niat membelinya, meski aku berniat
sekali untuk melahap
isinya.
Menulis adalah suara hatiku, dimana aku biasa
memberikan semangat
kepada diriku sendiri atau sekedar meluapkan
emosi. Terkadang aku bahkan
tak perduli ketika coretanku berantakan tanpa
arti..
Seiring berjalannya waktu, aku melirik
kesekelilingku. Dan aku baru sadar
ternyata dengan menulis kita bisa berbagi, dan
dunia terasa indah dengan
berhias rangkaian kata. Semoga aku bisa..!
ENJOY


Belum ada tanggapan untuk "PUISI CERMIN TUA"
Posting Komentar